Wartabisnis.biz.id-Jakarta, Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia disambut hangat karena pandangan dan nilai-nilainya yang inklusif, yang menekankan persatuan antar umat beragama. Hal itu dikatakan Sekjen SATUPENA, Satrio Arismunandar.
Satrio Arismunandar menang gapi tema diskusi tentang mak na kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia. Diskusi daring di Jakarta, Kamis malam, 19 Sep tember 2024 itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai penulis senior Denny JA.
Diskusi yang dikomentari Satrio Arismunandar itu akan mengha dirkan narasumber Romo Yohanes Wahyu Prasetyo OFM. Diskusi itu akan dipandu oleh Anick HT dan Amelia Fitriani.
Satrio Arismunandar mengung kapkan, ada beberapa panda ngan dan nilai universal yang mencerminkan pendekatan Paus Fransiskus terhadap semua agama.
“Paus Fransiskus sering menekankan konsep persauda raan manusia tanpa meman dang agama, ras, atau latar belakang budaya,” ujar Satrio.
Dalam ensikliknya Fratelli Tutti (2020), kata Satrio, Paus Fransiskus menyerukan persatu an antarumat manusia sebagai satu keluarga besar, di mana setiap individu dipanggil untuk mencintai dan menghormati sesamanya.
Perdamaian adalah nilai inti yang dipegang oleh Paus Fransiskus. Ia mendorong dialog antaragama sebagai sarana untuk menghindari konflik dan mencapai rekon siliasi di dunia yang penuh dengan perpecahan.
“Paus sering mengadakan pertemuan dengan pemimpin agama lain, baik Islam, Yahudi, maupun agama lainnya, untuk mempromosikan kerja sama demi perdamaian dunia,” lanjut Satrio.
Dalam ajaran Katolik, Paus Fransiskus sangat vokal tentang pentingnya membela mereka yang tertindas dan hidup dalam kemiskinan. Ia memandang keadilan sosial sebagai nilai universal yang relevan bagi semua agama.
“Setiap agama memiliki ajaran yang menekankan bantuan kepada yang membutuhkan, dan Paus menghubungkan nilai ini dengan panggilan spirituali tas yang lebih luas,” Satrio menjelaskan.
Selain itu, tutur Satrio, Paus Fransiskus menegaskan bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama semua umat manusia.
Dalam ensikliknya Laudato Si’ (2015), Paus menyoroti krisis lingkungan dan meminta semua komunitas agama untuk bersama-sama bertindak men jaga bumi sebagai rumah ber sama, terlepas dari perbedaan keyakinan.
“Banyak agama, termasuk Islam, Hindu, Buddha, dan lainnya, memiliki prinsip menghormati alam, sehingga pesan ini bersifat universal,” sambung Satrio.
Paus sering berbicara tentang pentingnya solidaritas dalam menghadapi masalah global seperti pengungsi, kemiskinan, dan pandemi. “Ia menekankan bahwa tantangan ini hanya dapat diselesaikan jika umat manusia bekerja sama, tanpa memandang agama atau keper cayaan,” Satrio menyimpulkan.
