Wartabisnis.biz.id-Jakarta, AI atau kecerdasan buatan (artificial intelligence) dapat digunakan untuk menciptakan pola fractal, yang menggabung kan motif batik tradisional dengan elemen geometris modern. Hal itu dikatakan Sekjen SATUPENA, Satrio Arismunandar.
Satrio Arismunandar menang gapi tema diskusi Lukis Literasi Berbantuan AI. Diskusi daring di Jakarta, Kamis malam, 10 Ok tober 2024 itu diadakan oleh Kreator Era AI berkolaborasi dengan Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang dike tuai penulis senior Denny JA.
Diskusi yang dikomentari Satrio Arismunandar itu akan meng hadirkan narasumber A. Mufti, pelukis fractal AI. Diskusi itu akan dipandu oleh Jonminofri Nazir dan Mila Muzakkar.
Satrio mengungkapkan, batik adalah bentuk seni kain tradi sional Indonesia. Dengan meng gabungkan motif batik tradisi onal dengan elemen geometris modern, AI bisa menghasilkan karya batik kontemporer yang tetap menghormati tradisi.
Ditambahkan oleh Satrio, dalam industri fashion tinggi (haute couture), AI bisa mem bantu desainer menciptakan pola kain yang kompleks, unik, dan menonjol, cocok untuk pakaian eksklusif.
“AI bisa digunakan untuk meng eksplorasi kemungkinan este tika baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya oleh manusia,” ujar Satrio.
“Dengan unsupervised learning, AI dapat menemukan kombi nasi dan variasi pola fractal yang segar dan inovatif, men dorong batas kreativitas dalam dunia desain tekstil,” tuturnya.
Satrio mengungkapkan, AI mampu menghasilkan pola secara otomatis, mengoptimal kan desain, dan menghasilkan variasi tanpa batas. “Teknologi ini dapat membantu desainer kain yang ingin menciptakan pola-pola fractal yang inovatif, unik, dan estetis,” ucapnya.
“Kombinasi antara AI dan metode fractal memungkinkan eksplorasi kreatif yang lebih bebas, mempercepat proses desain, dan menghadirkan karya kain yang menarik dengan detail matematis yang rumit,” lanjut Satrio.
Kata Satrio, AI dapat membantu desainer menciptakan pola-pola kain fractal berdasarkan prefe rensi atau masukan pengguna, dengan menggunakan Natural Language Processing (NLP).
“Melalui NLP, AI dapat mema hami deskripsi verbal pengguna tentang pola yang mereka ingin kan dan secara otomatis meng hasilkan pola fractal yang sesu ai. AI kemudian akan menghasil kan desain berdasarkan des kripsi ini dan menawarkan be berapa variasi kepada desai ner,” jelas Satrio.
Misalnya, ujar Satrio, desainer dapat memberikan arahan tentang jenis pola, seperti: “Saya ingin pola fractal yang menyerupai cabang pohon.”
“Atau tentang gaya, misalnya: saya ingin pola yang lebih organik dan lembut dengan banyak kurva. Juga, tentang warna, seperti: gunakan kom binasi warna hangat, seperti merah dan oranye,” Satrio menjelaskan.
