Wartabisnis.biz.id-Jakarta, Sastra memungkinkan repre sentasi yang beragam dari ber bagai kelompok masyarakat, dan memberikan suara kepada mereka yang sering terpinggir kan. Hal itu dikatakan Sekjen SATUPENA, Satrio Arismunandar.
Satrio Arismunandar menang gapi diskusi bertema Sastra, Demokrasi, Lingkungan. Dis kusi daring di Jakarta, Kamis malam, 20 Juni 2024 itu dia dakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai penulis senior Denny JA.
Diskusi Sastra, Demokrasi, Lingkungan yang dikomentari Satrio Arismunandar itu meng hadirkan narasumber penulis senior dan penyair Eka Budi anta. Diskusi itu dipandu oleh Elza Peldi Taher dan Amelia Fitriani.
Satrio Arismunandar menu turkan, “Menyuarakan kelom pok yang terpinggirkan itu penting dalam demokrasi untuk memastikan inklusivitas dan keberagaman.”
Satrio mengungkapkan, hubu ngan antara demokrasi dan sastra adalah hubungan yang kompleks dan saling mempe ngaruhi.
“Sastra tidak hanya mencermin kan kondisi sosial dan politik suatu masyarakat, tetapi juga berperan dalam membentuk dan mempertahankan nilai-nilai demokrasi,” ujarnya.
Ditambahkan oleh Satrio, dalam demokrasi, kebebasan berpendapat adalah salah satu pilar utama.
“Sastra menawarkan platform bagi penulis untuk mengeks presikan pandangan mereka, mengkritik penguasa, dan menyoroti isu-isu sosial tanpa takut akan penindasan,” lanjutnya.
Salah satu contohnya, kata Satrio, adalah penulis George Orwell. Novel Orwell seperti “1984” dan “Animal Farm” mengkritik totalitarianisme dan menyuarakan pentingnya kebebasan dan hak individu.
Contoh lain adalah Pramoedya Ananta Toer. “Melalui karya-karyanya, seperti tetralogi Pulau Buru, Pramoedya menyoroti perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan dan ketidakadilan, yang juga mencerminkan nilai-nilai demokrasi,” sambung Satrio.
Satrio berpendapat, sastra dapat berfungsi sebagai alat pendidikan yang kuat, memban tu masyarakat memahami dan menghargai nilai-nilai demokrasi.
“Dengan membaca sastra, individu dapat lebih mema hami isu-isu kompleks dan mengembangkan empati terha dap orang lain,” tuturnya.
Menurut Satrio, dalam masya rakat demokratis, diskusi dan dialog adalah esensial.
“Sastra menyediakan ruang untuk refleksi dan dialog tentang isu-isu penting, me mungkinkan berbagai suara dan perspektif untuk didengar dan dipertimbangkan,” imbuhnya.
