Wartabisnis.biz.id-Jakarta, Lewat karya-karyanya, para penulis dan sastrawan Indonesia bisa mendu kung ketahanan jiwa rakyat Palestina di Gaza dalam mengha dapi penjajahan Israel. Hal itu dikatakan Sekjen SATUPENA, Dr. Satrio Arismunandar.
Satrio Arismunandar mengomen tari diskusi tentang respons penu lis terhadap tragedi kemanusiaan di Gaza. Diskusi di Jakarta, Kamis malam, 21 Desember 2023 itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai penulis senior Denny JA.
Diskusi yang dikomentari Satrio Arismunandar itu menghadirkan pembicara Akmal Nasery Basral. Ia adalah kurator dan editor buku “Perang Pecah (Lagi) di Gaza: Antologi Kemanusiaan Palestina.” Diskusi itu dipandu oleh Elza Peldi Taher dan Swary Utami Dewi.
Menurut Satrio, penulis dan sastrawan dapat menanggapi tragedi kemanusiaan dengan berbagai cara. Respons ini termasuk terhadap tragedi kemanusiaan di Gaza, Palestina, yang telah menewaskan 18.000 warga.
“Para penulis menggunakan karya mereka untuk mengeksplorasi, merefleksikan, dan memahami dampak mendalam dari peristiwa tersebut terhadap individu dan masyarakat,” ujar Satrio.
Beberapa penulis fokus pada ketahanan jiwa manusia dalam menghadapi tragedi. Mereka menceritakan kisah-kisah tentang individu atau komunitas yang bertahan mengatasi kesulitan.
“Mereka menekankan kekuatan dan keberanian yang ditunjukkan selama masa-masa sulit,” lanjutnya.
Selain itu, kata Satrio, tragedi sering kali mendorong penulis untuk terlibat dalam penyelidikan politik dan etika. Mereka mungkin mempertanyakan peran pemerin tah, lembaga, atau individu dalam mencegah atau merespons krisis.
“Hal ini dapat mengarah pada pemeriksaan yang lebih menda lam terhadap dinamika kekuasa an, akuntabilitas, dan keadilan,” tutur jurnalis senior, yang pada 1990-an pernah meliput ke Jalur Gaza dan Tepi Barat ini.
Satrio menyatakan, penulis juga sering menggunakan tragedi sebagai lensa untuk mengkaji masalah-masalah sosial.
“Mereka mungkin mengeksplorasi permasalahan sistemis, kegagalan politik, atau ketidakadilan sosial yang berkontribusi atau memper buruk tragedi kemanusiaan,” tegasnya.
Ditambahkan oleh Satrio, banyak penulis juga menggunakan karya nya untuk membangkitkan empati dan kasih sayang.
Melalui penceritaan dan pengem bangan karakter, mereka memanu siakan pengalaman orang-orang yang terkena dampak tragedi. “Mereka membantu pembaca terhubung secara emosional dengan individu yang terlibat,” tutur Satrio.
“Menulis juga bisa berperan sebagai katarsis dan penyembu han. Menulis dapat menjadi salah satu bentuk katarsis baik bagi penulis maupun pembacanya,” sambungnya.
