Wartabisnis.biz.id-Jakarta, Tragedi kemanusiaan yang menimpa warga sipil Palestina di Jalur Gaza, di luar keinginan Israel mungkin justru memper cepat berdirinya negara Pales tina merdeka. Hal itu dikatakan Sekjen SATUPENA, Satrio Arismunandar.
Satrio Arismunandar menang gapi diskusi tentang mengapa politik Timur Tengah semakin membara. Diskusi daring di Jakarta, Kamis malam, 6 Juni 2024 itu diadakan oleh Perkum pulan Penulis Indonesia SATU PENA, yang diketuai penulis senior Denny JA.
Diskusi yang dikomentari Satrio Arismunandar itu menghadir kan narasumber wartawan senior dan pengamat Timur Tengah, Nasir Tamara. Diskusi itu dipandu oleh Anick HT dan Swary Utami Dewi.
Satrio Arismunandar menutur kan, apa yang terjadi pada warga sipil Palestina di Jalur Gaza sekarang semakin mem buka mata dunia tentang kebrutalan penjajahan yang dilakukan Israel.
“Jumlah warga sipil Palestina yang tewas di Gaza saat ini sudah lebih dari 36.500 jiwa. Angka itu terus bertambah karena serangan Israel belum berhenti, dengan alasan untuk menghabisi Hamas,” ucap Satrio.
“Namun, Israel hanya unggul di lapangan secara militer. Dalam diplomasi internasional, penci traan, dan dimensi moralitas, Israel justru kini hancur lebur di mata masyarakat dunia,” tegas Satrio.
Ditambahkan Satrio, kini makin banyak negara di dunia yang mengakui kedaulatan negara Palestina. Terakhir, negara Eropa seperti Spanyol, Irlandia, Norwegia, dan Slovenia menga kui Palestina.
Sebelumnya, kata Satrio, negara anggota Uni Eropa seperti, Swe dia, Siprus, Hungaria, Republik Ceko, Polandia, Slowakia, Ruma nia, dan Bulgaria telah menga kui negara Palestina. Malta mengatakan akan segera menyusul.
“Israel, meskipun didukung Amerika, semakin terkucil di dunia internasional. Bahkan dalam pemungutan suara di Majelis Umum PBB terkait status keanggotaan Palestina, sekutu AS terdekat seperti Inggris bersikap abstain, tidak mendukung posisi AS dan Israel,” ujar Satrio.
Dalam kaitan solusi masalah Palestina, Satrio mengapresiasi Menteri Pertahanan RI Pra bowo Subianto, yang baru-baru ini mengatakan siap mengirim pasukan penjaga perdamaian Indonesia ke Gaza, jika disetujui pihak yang bersengketa.
Menurut Satrio, pengiriman pasukan perdamaian Indonesia itu harus berdasarkan mandat PBB, seperti yang sudah dilaku kan selama ini.
Satrio memaparkan, partisipasi pasukan Indonesia dalam misi menjaga perdamaian di Timur Tengah sudah berlangsung se jak 1957, di zaman pemerinta han Presiden Soekarno.
“Kontingen Garuda I yang berkekuatan 559 pasukan pernah ditempatkan di Gaza dan Rafah, di garis depan perbatasan antara Mesir dan Israel pada 1957. Ini yang banyak orang tidak tahu,” ungkap Satrio.
