Wartabisnis.biz.id-Jakarta, Sebagai IP (intellectual property) licensing company, Balai Pustaka bukan sekadar mengejar profit, tetapi bisa menghidupkan kembali khasa nah budaya lama, berupa ratu san cerita rakyat yang selama ini kurang diperhatikan publik. Hal itu dikatakan Sekjen SATU PENA, Satrio Arismunandar.
Satrio Arismunandar menang gapi diskusi bertema Pusaka Literasi Indonesia. Diskusi daring di Jakarta, Kamis malam, 1 Agustus 2024 itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indo nesia SATUPENA, yang diketuai penulis senior Denny JA.
Diskusi yang dikomentari Satrio Arismunandar itu menghadir kan narasumber Direktur Utama Balai Pustaka, Achmad Fachrodji. Diskusi itu dipandu oleh Swary Utami Dewi dan Anick HT.
Satrio Arismunandar mengung kapkan, IP licensing company adalah perusahaan yang meng khususkan diri dalam menge lola, melisensikan, dan melin dungi kekayaan intelektual (Intellectual Property atau IP).
“Kekayaan intelektual menca kup hak-hak atas penemuan, merek dagang, hak cipta, desain, dan rahasia dagang. Jadi Balai Pustaka bekerja untuk memaksimalkan nilai dari IP yang dimiliki atau dikelola oleh mereka atau klien mereka,” tutur Satrio.
Dalam konteks Balai Pustaka, kata Satrio, intellectual proper ty yang dimiliki itu jumlahnya ribuan, termasuk ada ratusan cerita rakyat dan ada seri ten tang kepahlawanan. Maklum, karena Balai Pustaka sudah berdiri sejak zaman Belanda.
“Mengelola kekayaan intelek tual memerlukan keseimba ngan antara melindungi hak-hak IP, memaksimalkan nilai ekonomi, dan tetap peka terha dap perubahan regulasi serta dinamika pasar,” sambung Satrio tentang tantangan yang dihadapi Balai Pustaka.
Menurut Satrio, dengan khasa nah budaya dan luasnya IP yang tercakup dalam koleksi Balai Pustaka, maka lembaga ini juga bisa berperan besar dalam penyusunan kanon sastra (literary canon) Indonesia.
Satrio memaparkan, kanon sastra adalah kumpulan karya sastra yang dianggap memiliki nilai dan kualitas tinggi, serta diakui sebagai representasi terbaik dari budaya atau tradisi sastra tertentu.
Ditambahkannya, karya-karya dalam kanon sastra sering diajarkan di sekolah dan universitas, serta sering menjadi subjek analisis kritis dan diskusi ilmiah. Beberapa karya yang sering masuk dalam kanon sastra adalah karya-karya klasik yang sudah teruji oleh waktu.
“Kanon sastra sering mencer minkan nilai-nilai, ide, dan sejarah budaya tertentu. Mereka membantu memperta hankan dan mengkomuni kasikan identitas budaya kepa da generasi berikutnya,” tutur Satrio.
Satrio menyatakan, selain khasanah sastra lama yang IP-nya dipegang oleh Balai Pustaka, karya-karya kontem porer juga bisa dimasukkan ke dalam kanon sastra.
“Proses ini biasanya memer lukan waktu, karena suatu karya perlu diuji oleh berbagai kritik dan mendapatkan penga kuan yang luas sebelum diakui sebagai bagian dari kanon,” tegasnya.
