Wartabisnis.biz.id-Jakarta, Arti penting Sitor Situmorang dalam sastra Indonesia adalah dia dianggap melahirkan keba ruan dalam puisi Indonesia. Sitor memodernisasi puisi Indo nesia dengan gaya minimalis dan perenungan filosofis. Hal itu dikatakan Sekjen SATU PENA, Satrio Arismunandar.
Satrio Arismunandar menanggapi tema diskusi tentang rekam jejak dan kehidupan penyair Sitor Situmorang. Diskusi daring di Jakarta, Kamis malam, 17 Oktober 2024 itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai penulis senior Denny JA.
Diskusi yang dikomentari Satrio Arismunandar itu akan mengha dirkan narasumber istri Sitor Situmorang, Barbara Brouwer dan putranya Iman Situmorang. Diskusi itu akan dipandu oleh Anick HT dan Amelia Fitriani.
Satrio mengungkapkan, oleh pengamat sastra, Sitor dipandang sebagai perintis puisi modern. Karya-karya puisinya memiliki ciri khas gaya ekspresif, sederhana, dan kontemplatif. Ia sering merenungkan alam, cinta, kehidupan batin, dan budaya.
“Puisi Sitor sering disebut sebagai puisi mini atau puisi pendek, yang memadukan kesederhanaan bentuk dengan kedalaman makna,” ujar Satrio.
Ditambahkan Satrio, contoh puisi Sitor yang terkenal adalah “Malam Lebaran.” Ini sebuah puisi pendek yang menggam barkan suasana kesunyian saat malam Lebaran, sarat dengan kesederhanaan dan kesedihan tersembunyi.
Satrio memaparkan, selain sebagai penyair, Sitor juga dikenal sebagai penulis cerpen yang penting. “Cerpen-cerpen nya sering mengangkat realis me sosial dan problematika manusia dalam situasi sehari-hari, terutama masyarakat Indonesia pada masa awal kemerdekaan,” tuturnya.
Karya Sitor tidak hanya meng gambarkan kehidupan perkota an, ungkap Satrio, tetapi juga menyelami kearifan lokal dan tradisi Batak.
Arti penting lain dari sosok Sitor, ia menjadi penghubung tradisi lokal dan modern. “Sitor sukses meramu nilai-nilai tradisi Batak dengan bahasa sastra modern, menjadikannya sebagai sosok yang mampu merangkul tradisi dan kemaj uan sekaligus,” ucap Satrio.
“Selain itu, gaya cerpen dan esainya sering kali bersifat puitis, sehingga ia dianggap sebagai salah satu pelopor prosa liris dalam sastra Indonesia,” lanjut Satrio.
Satrio menyatakan, Sitor juga dikenal sebagai budayawan dan intelektual yang aktif dalam diskusi-diskusi kebudayaan. Ia terlibat dalam Manikebu (Manifes Kebudayaan), sebuah gerakan kebudayaan yang menekankan kebebasan ber ekspresi dan menentang hegemoni politik dalam seni.
Namun, ungkap Satrio, posisinya kemudian menjadi rumit ketika ia dianggap dekat dengan rezim Soekarno dan ideologi sosialisme. Sehingga pada masa Orde Baru, Sitor sempat dipenjara selama hampir 10 tahun tanpa penga dilan, dari 1967 hingga 1976.
