Wartabisnis.biz.id-Jakarta, Berangkat menggunakan helm, bekerja seharian dengan hijab, lalu berpindah antara cuaca panas, perjalanan outdoor, dan ruangan ber-AC. Bagi banyak masyarakat Indonesia, mobilitas seperti ini sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Namun, di penghujung hari, sebagian orang mulai merasakan kulit kepala lebih lembap, cepat berminyak, gatal, atau melihat flakes kembali muncul.
Yang perlu diperhatikan bukan penggunaan hijab atau helm itu sendiri, melainkan perubahan kondisi kulit kepala selama tertutup dalam waktu lama. Keringat dapat bercampur dengan sebum, debu, polusi, serta residu produk rambut. Pada kulit kepala yang memang rentan berketombe, kombinasi tersebut dapat membuat keluhan menjadi lebih terasa.
Menurut dr. Ardhiah Iswanda Putri, Sp.D.V.E., M.Ked.Klin, Dermatologist sekaligus Dermascalp Expert Trichologist Board, kondisi kulit kepala dapat berubah mengikuti aktivitas dan lingkungan yang dihadapi sepanjang hari.
“Kulit kepala adalah lingkungan yang dinamis. Kondisinya dapat berubah mengikuti aktivitas, cuaca, keringat, polusi, dan produk yang digunakan.”
Karena itu, perawatan kulit kepala sebaiknya tidak hanya ditentukan oleh berapa lama seseorang menggunakan hijab atau helm, tetapi juga oleh apa yang terjadi pada kulit kepala setelah menjalani aktivitas tersebut.
Mengapa ketombe bisa lebih terasa saat kulit kepala tertutup
seharian?
Ketombe merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Produksi sebum, keberadaan
Malassezia, kondisi microbiome, hingga scalp barrier dapat saling berperan.
Saat tubuh menghadapi suhu tinggi atau aktivitas meningkat, produksi keringat ikut bertambah. Ketika kulit kepala berada dalam kondisi tertutup, kelembapan dapat bertahan lebih lama. Keringat kemudian bercampur dengan minyak alami kulit kepala, debu, polusi, dan residu produk rambut. Pada kulit kepala yang rentan berketombe, lingkungan yang lebih lembap dan berminyak dapat membuat gatal dan flakes lebih terasa.
Seperti dijelaskan dr. Ardhiah: “Ketombe yang terlihat di permukaan bisa menjadi tanda dari kondisi scalp yang belum seimbang. Karena itu, kita tidak hanya melihat flakes-nya, tetapi juga lingkungan tempat masalah itu muncul.”
Artinya, ketika ketombe terus kembali, perawatan tidak cukup hanya berfokus pada flakes yang terlihat. Kondisi kulit kepala tempat masalah tersebut muncul juga perlu diperhatikan. Penelitian di Indonesia menemukan perbedaan scalp
microbiome pada pengguna hijab
Kondisi kulit kepala selama meng gunakan hijab juga telah menjadi perhatian dalam penelitian dermatologi di Indonesia.
Penelitian yang dipimpin Prof. Dr. dr. Sandra Widaty, Sp.D.V.E., Subsp.D.T., FINSDV, FAADV bersama tim dermatologi FKUI–RSCM dan dipublikasikan dalam Scientific Reports pada 2023 menemukan adanya perbedaan komposisi scalp microbiome antara perempuan sehat pengguna hijab dan non-hijab. Pada kelompok pengguna hijab, Malassezia restricta dan Staphylococcus capitis lebih umum ditemukan dibandingkan kelompok non-hijab. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi scalp pada
covered-hair environment dapat memiliki karakteristik microbiome yang berbeda. Namun, hasil tersebut tidak berarti hijab menyebabkan ketombe atau masalah kulit kepala. Studi ini bersifat cross-sectional sehingga menunjukkan adanya perbedaan pola microbiome, bukan hubungan
sebab-akibat langsung.
Penelitian Prof. Sandra secara khusus mempelajari penggunaan hijab. Karena itu, temuannya tidak dapat langsung digeneralisasi untuk penggunaan helm. Pada pengguna helm, faktor seperti panas, keringat, kelembapan, gesekan, serta kebersihan bagian dalam helm tetap menjadi hal yang relevan untuk diperhatikan dalam rutinitas sehari-hari.
Ketika yang terus kembali adalah ketombe dan gatal, membersihkan saja belum tentu cukup Setelah beraktivitas seharian, kulit kepala yang sangat berminyak atau penuh residu memang perlu dibersihkan. Namun, ketika masalah yang terus muncul adalah ketombe, flakes, dan rasa gatal,
pemilihan shampoo perlu mempertim bangkan bahan aktif yang memang ditujukan untuk masalah ketombe.
Salah satunya adalah Piroctone Olamine.
Pada Dermascalp Expert Dandruff Relief Shampoo, Piroctone Olamine membantu mengontrol Malassezia dan sebum berlebih yang berkaitan dengan ketombe. Formula tersebut dipadukan dengan Biomimetic ScalpTech™ powered by Molecular Amino. Molecular Amino meniru Natural Moisturizing Factors (NMF) yang secara alami terdapat pada kulit kepala untuk membantu mengurangi dry flakes, mempertahan kan hidrasi, serta mendukung kondisi
microbial barrier kulit kepala.
Kombinasi tersebut ditujukan pada dua kebutuhan yang sering muncul bersamaan pada kulit kepala
yang rentan berketombe: membantu mengontrol faktor yang berkaitan dengan ketombe sekaligus menjaga kondisi kulit kepala tetap terhidrasi. Dalam pengujian produk, Dermascalp Expert Dandruff Relief Shampoo teruji mengurangi ketombe hingga 92% setelah 14 hari. Selain itu, 90% merasa rasa gatal pada kulit kepala berkurang setelah satu
kali penggunaan.
Apa yang sebaiknya dilakukan setelah seharian menggunakan hijab atau helm?
Perawatannya tidak perlu rumit. Hal yang paling penting adalah mencegah keringat, minyak, kelembapan, dan residu bertahan terlalu lama pada kulit kepala. Pastikan rambut dan kulit kepala cukup kering sebelum kembali menggunakan hijab atau helm dalam
waktu lama. Inner hijab dan bagian dalam helm yang rutin bersentuhan dengan rambut serta kulit kepala juga perlu dibersihkan dan dikeringkan secara berkala. Setelah banyak berkeringat, hindari membiarkan kulit kepala tetap sangat lembap terlalu lama. Bila scalp sudah terasa sangat berminyak, gatal, atau flakes mulai muncul, bersihkan sesuai kebutuhannya.
Untuk menggunakan Dermascalp Expert Dandruff Relief Shampoo, basahi rambut dan kulit kepala terlebih dahulu. Busakan shampoo di tangan, kemudian aplikasikan busanya pada kulit kepala. Pijat lembut dengan gerakan melingkar, lalu bilas hingga bersih menggunakan air dingin atau hangat. Jika ketombe terus menetap atau semakin berat, terutama apabila disertai kemerahan luas, luka, sisik tebal, atau kerontokan rambut yang tidak biasa, pemeriksaan oleh Dermatologist diperlukan untuk
memastikan penyebab dan perawatan yang tepat. Kulit kepala yang tertutup bukan berarti kulit kepala yang otomatis bermasalah. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana kondisi scalp berubah sepanjang hari dan menyesuaikan perawatannya ketika ketombe, flakes, atau rasa gatal mulai berulang.

